|
Butuh Hosting Murah dan Stabil? Pesan di sini
12 - Apr - 2009 | 7:40 pm | kategori:Pemilu 2009
Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) menilai pelaksanaan pemilu legislatif 2009 amburadul dan banyak kecurangan. PPRN bahkan menduga ada upaya sistematis untuk memenangkan partai politik tertentu. Oleh karena itu, PPRN meminta meminta Pemilu 2009 diulang.
Hal ini diungkapkan Ketua DPP PPRN Bidang Politik Daniel Nafis dalam rilis PPRN yang dikeluarkan di Jakarta, Minggu, (12/04).
“Melihat rumitnya permasalahan Pemilu 2009 yang luar biasa seperti DPT dan dukungan yang sistematis untuk memenangkan partai tertentu, pemilu ulang bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk menjaga kualitas dan legitimasi Pemilu 2009,” kata Daniel Nafis.
Menurut Daniel, Pemilu ulang secara nasional merupakan hal yang strategis demi menjaga moral dan legalitas hasil Pemilu 2009. Pemilu ulang juga suatu solusi agar KPU sebagai penyelenggara pemilu tidak mendapat gugatan dari rakyat dan partai.
“KPU dan pendukung penyelenggara pemilu harus dapat mempertanggung jawabkan secara moral dan legal hasil pemilu demi terwujudnya demokrasi dan daulat suara rakyat,” ujar Daniel.
Mengenai buruknya DPT juga dikritisi oleh capres independen Fadjroel Rahman. Fadjroel antara lain menyoroti perolehan suara Partai Demokrat yang spektakuler (300%) sebagai aneh dan layak masuk rekor dunia, Guiness Book of Record.
Pemilu 2009 bisa masuk rekor Muri atau bahkan Guiness Book of Record. Satu-satunya pemilu di dunia yang partai baru (Partai Demokrat) bisa meningkat 300 persen, ini hanya mungkin terjadi di negara totaliter, ” ucap Fadjroel dengan sinis.
Hal ini disampaikan Fajroel dalam konferensi pers yang digelar Dewan
Perubahan Nasional, di Restoran Koetaradja, Jl Senen Raya No 10, Jakarta Pusat, Minggu (12/04).
Menurut Fajroel, terlalu banyak masalah dalam pemilu ini yang menjadikan hasilnya sedemikian “ajaib”.
“DPT kita buruk sehingga pemilu kita pun buruk. Kita butuh komisi kejujuran, masalah DPT harus dibenahi,” ujar Fajroel.
Quick Count tidak profesional
Sementara Sekjen PPRN Yansen, menambahkan pihaknya akan menuntut lembaga penyelenggara quick count karena hasil perhitungannya dinilai menimbulkan keresahan. Selain itu, quick count juga dinilai merugikan partai-partai baru dengan menempatkan partai-partai ini dalam posisi bawah.
”Efek politik dari quick count ini menimbulkan keresahan dan pengkondisian massal untuk menafikan partai-partai baru,” ujar Yansen.
Menurut Yansen, kinerja quick count tidak profesional karena tidak melihat hal yang sebenarnya yang terjadi diluar. Hasil perhitungan quick count, PPRN hanya 1,7%, sementara hasil perhitungan dari tabulasi real count PPRN, partai berlambang delapan penjuru arah mata angin ini mendapat 2,5% suara.
HOME | RSS 2.0 | KATEGORI: Pemilu 2009 | Isi Komentar | TRACKBACK |
Mencari segala sesuatu tentang Jakarta di website ini
Caranya:
1. Kirim melalui kontak Form kami. Klik di sini
2. atau mendaftar menjadi member, sehingga anda bisa mengirim melalui dashboard kami. DAFTAR
3. atau kirim melalui email ke: redaksi@lintasjakarta.com