SPPB tak keluar, ratusan kontainer tertahan

27 - Jul - 2010 | 11:00 pm | kategori:Lintas Daerah

Surabaya, LJ – Para importir di Jatim mengeluhkan barang impornya yang masih tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan kontainer. Hal itu dikarenakan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Perak tidak mengeluarkan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).

Wakil Ketua Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) Jatim Ayu S. Rahayu, di Surabaya, Senin (26/7) mengatakan, ratusan kontainer itu sudah tertahan dalam satu bulan terakhir. ”Ini bukan hanya merugikan importir, tapi juga konsumen secara umum karena proses produksi menjadi terhambat,” ujarnya.

Biasanya, kata Ayu, dalam tujuh hari SPPB sudah diterbitkan. Namun, saat ini SPPB baru keluar dalam 30 hari. Proses pemeriksaaan berjalan sangat lambat. Untuk jalur merah, yaitu impor barang-barang berisiko tinggi, setelah pengajuan pemeriksaan fisik, biasanya dua hari langsung tertangani. “Namun, sekarang itu baru ditangani setelah tujuh hari. Sebab, Bea Cukai kekurangan tenaga pemeriksa,” katanya.

Dia mengatakan, akibat tertahannya barang impor tersebut, proses produksi terhambat. Tentunya, pengiriman barang ke mitra atau konsumen juga menjadi tertunda atau molor. Dampaknya, para importir terancam diputus kontrak oleh para mitranya karena molornya pengiriman barang tersebut.

Selain itu, biayanya akan membengkak karena melambungnya biaya demurrage. Untuk kontainer 20 feet, misalnya, biayanya mencapai 10 dolar US per hari dan untuk 40 feet bisa mencapai 40 dolar US per hari. Itu pun ada aturan biaya progresif, yaitu semakin lama tertahan, maka pembayaran ke perusahaan perkapalan juga semakin besar. Belum lagi biaya penyimpanan (storage) yang mencapai Rp 40.000 per hari.

”Tinggal dihitung saja itu ke ratusan kontainer. Barang saya saja sebulan baru keluar SPPB-nya. Kalau saya bisa adjustment harga, mungkin tidak masalah. Tapi ini sudah kontrak di harga tertentu. Otomatis saya rugi. Impas saja saya sudah bersyukur,” tuturnya.

Sementara itu, Corporate Public Relations PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Wara Djatmika mengatakan, per 23 Juli lalu, kontainer yang telah tertahan di TPS selama 7-15 hari mencapai 2.139, yang tertahan 16-21 hari mencapai 754 boks, dan yang sudah tertahan 21-30 hari mencapai 554.

Yard Occupancy Ratio (YOR) atau tingkat isian di terminal pada Sabtu, Minggu, dan Senin lalu sempat mencapai 105%. Padahal, YOR impor maksimal adalah 68%. ”YOR pada Rabu sudah 80%, Kamis 75%, dan Jumat hari ini 68%,” ujar Wara.

Wara menuturkan, apabila YOR atau tingkat isian di terminal turun bukan berarti dikarenakan jumlah kontainer yang tertahan sudah bisa dikeluarkan, namun karena ratusan kontainer itu dipindahkan ke jalur lain.(Imam Watulingas)

HOME | RSS 2.0 | KATEGORI: Lintas Daerah | Isi Komentar | TRACKBACK |

Silakan Mengisi Komentar

Mencari segala sesuatu tentang Jakarta di website ini


baner sarang semut majalah gratis profil sekolah jakarta

Caranya:
1. Kirim melalui kontak Form kami. Klik di sini
2. atau mendaftar menjadi member, sehingga anda bisa mengirim melalui dashboard kami. DAFTAR
3. atau kirim melalui email ke: redaksi@lintasjakarta.com

website sekolah