|
« MA Larang Ujian Nasional | Skandal Bank Century, siapa yang harus bertanggungjawab? »
Sejumlah bangunan yang terkena proyek Banjir Kanal Timur (BKT) akhirnya digusur pemerintah. Mereka adalah warga yang selama ini masih bertahan di tanah yang dilewati proyek BKT. Alasan warga, mereka belum menerima ganti rugi tanah, hanya bangunan yang sudah dibayar.
Untuk itu, sekitar 100 warga Pondok Kopi dengan didukung 2 ormas, FBR dan Pemuda Pancasila juga terlihat ikut menjaga. Upaya itu menghambat laju 5 buldozer yang hendak mengeruk tanah mereka guna proyek Banjir Kanal Timur (BKT). Suasana tegang. Ratusan warga yang berseragam hitam-hitam dan loreng oranye berjaga di tiap ujung Jalan Robusta, Pondok Kopi. Mereka menyatakan akan bertahan karena tanah mereka diserobot pemerintah.
“Kami terpaksa memblokir jalan. Tanah ini belum dibayar,” kata Kustiri, salah satu korban gusuran BKT di RT1/3 Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (25/11).
“Kami tinggal di sini sejak sini masih hutan. Kini digusur tanpa ganti rugi. Apa-apaan ini!” teriak ibu-ibu yang emosi.
Sejumlah material bangunan dipergunakan untuk menutup jalan. Material itu diambil dari bongkaran bangunan yang berdiri di tanah gusuran sekitar 5.000 m2.
Namun perlawanan warga akhirnya kendor. Mereka jelas kalah jumlah. Sekitar 700 aparat dari Satpol PP dan Polisi merangsek ke lahan gusuran BKT. Kericuhan pun tak terelakkan. Warga yang semula memblokade jalanan pun panik. Sementara massa 2 ormas yang sejak pagi hari berjaga, juga tidak kuasa menghadapi aparat yang jumlahnya lebih banyak.
HOME | RSS 2.0 | KATEGORI: Berita Jakarta | Isi Komentar | TRACKBACK |
Mencari segala sesuatu tentang Jakarta di website ini
Caranya:
1. Kirim melalui kontak Form kami. Klik di sini
2. atau mendaftar menjadi member, sehingga anda bisa mengirim melalui dashboard kami. DAFTAR
3. atau kirim melalui email ke: redaksi@lintasjakarta.com